Microservices vs Monolith: Mana Arsitektur Aplikasi yang Lebih Baik?
Di balik perbedaan monolitik dan microservices, tersembunyi arah masa depan aplikasi yang bisa menentukan keberhasilan skala bisnis digital Anda.
Saat memulai membangun software, persiapan yang baik akan menjadi fondasi project tersebut. Salah satu persiapan yang perlu direncanakan dari awal adalah arsitektur apa yang paling baik untuk project Anda.
Memilih arsitektur yang tepat untuk aplikasi adalah salah satu keputusan paling krusial dalam pengembangan software. Dua pilihan yang paling sering dipertimbangkan adalah arsitektur monolitik dan arsitektur microservices. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan pilihan terbaik sangat bergantung pada kebutuhan spesifik proyek. Mari kita bedah perbandingan antara keduanya.
Arsitektur Monolitik/Monolith: Struktur Tunggal yang Sederhana
Secara tradisional, software biasa dibangun menggunakan arsitektur monolitik. Arsitektur ini menggunakan satu basis kode untuk menjalankan berbagai fungsi bisnis. Semua komponen software dalam sistem monolitik saling bergantung karena adanya mekanisme pertukaran data di dalam sistem.
Hal ini berarti:
✅ Setiap perubahan atau pembaruan pada aplikasi memerlukan modifikasi dan redeploy seluruh monolit.
✅ Arsitektur monolitik sering kali dikenal karena kesederhanaannya dan kemudahan pengembangan, terutama untuk aplikasi berukuran kecil hingga menengah.
✅ Namun, arsitektur ini dapat menjadi kompleks dan sulit untuk dipelihara seiring dengan pertumbuhan ukuran dan kompleksitas aplikasi.
Arsitektur Microservice: Kumpulan Layanan yang Independen
Sebaliknya, arsitektur microservices menggunakan pendekatan arsitektur yang membagi software menjadi komponen atau layanan kecil yang independen. Setiap layanan menjalankan fungsi tunggal dan berkomunikasi dengan layanan lain melalui antarmuka yang telah didefinisikan dengan jelas.
Hal ini berarti:
✅ Setiap layanan bertanggung jawab atas satu fungsi atau fitur tertentu dari aplikasi dan dapat dikembangkan, diimplementasikan, dan diskalakan secara mandiri.
✅ Arsitektur Microservice memiliki dampak yang signifikan terhadap hubungan antara aplikasi dan database.
Perbedaan Utama Monolitik vs. Microservice
Aplikasi monolitik umumnya terdiri dari antarmuka pengguna (UI) sisi klien, basis data, dan aplikasi sisi server. Pengembang membangun semua modul ini pada satu basis kode.
Di sisi lain, dalam arsitektur terdistribusi, setiap microservice bertugas untuk mengimplementasikan satu fitur atau logika bisnis. Daripada bertukar data dalam basis kode yang sama, microservice berkomunikasi melalui antarmuka pemrograman aplikasi (API).
Berikut merupakan perbedaan mendalam antara arsitektur monolitik dengan arsitektur microservice:
|
Aspek |
Arsitektur Monolitik |
Arsitektur Microservices |
|
Arsitektur |
Arsitektur satu lapis (single-tier) |
Arsitektur multi-lapis (multi-tier) |
|
Ukuran |
Besar, semua komponen terhubung erat |
Kecil, komponen-komponen terhubung secara longgar |
|
Penyebaran (Deployment) |
Diterapkan sebagai satu unit tunggal |
Layanan individual dapat diterapkan secara independen |
|
Skalabilitas |
Peningkatan skala horizontal bisa jadi sulit |
Lebih mudah untuk ditingkatkan skalanya secara horizontal |
|
Pengembangan |
Pengembangan lebih sederhana di awal |
Kompleks karena harus mengelola banyak layanan |
|
Teknologi |
Pilihan teknologi terbatas |
Bebas memilih teknologi terbaik untuk setiap layanan |
|
Toleransi Kesalahan |
Seluruh aplikasi dapat gagal jika satu bagian gagal |
Layanan individu dapat gagal tanpa mempengaruhi layanan lain |
|
Pemeliharaan |
Lebih mudah dipelihara karena kesederhanaannya |
Membutuhkan lebih banyak upaya untuk mengelola banyak layanan |
|
Fleksibilitas |
Kurang fleksibel karena semua komponen terhubung erat |
Lebih fleksibel karena komponen dapat dikembangkan, diterapkan, dan ditingkatkan skalanya secara independen |
|
Komunikasi |
Komunikasi antar komponen lebih cepat |
Komunikasi mungkin lebih lambat karena adanya panggilan jaringan |
Yang Mana Paling Tepat Untuk Anda?
Baik arsitektur monolitik maupun microservices sama-sama membantu pengembang membangun aplikasi, hanya saja dengan pendekatan yang berbeda. Penting untuk dipahami bahwa microservices tidak mengurangi kompleksitas aplikasi, melainkan menyingkap kompleksitas yang ada dan memberikan kerangka yang lebih jelas agar pengembang dapat membangun, mengelola, serta melakukan skala pada aplikasi besar dengan lebih efisien.
Jadi, gunakan arsitektur monolitik jika aplikasi yang Anda bangun masih bersifat kecil dan simpel dan memiliki kompleksitas yang rendah yang tidak memerlukan maintenance terus menerus setelah deploy.
Namun, Anda mungkin akan lebih terbantu dengan pendekatan microservice jika aplikasi yang dibangun membutuhkan iterasi berkelanjutan secara terus menerus. Dengan begitu, Anda dapat mempersiapkan Aplikasi Anda untuk pertumbuhan yang akan datang.
Tetapi, diluar itu semua, tentu Anda juga perlu melihat kompetensi dan besar dari tim IT Anda. Anda memerlukan infrastruktur yang tepat sebelum dapat memulai dengan microservices. Anda memerlukan upaya lebih untuk menyiapkan alat dan alur kerja untuk microservices, tetapi mereka lebih disukai untuk membangun aplikasi yang kompleks dan skalabel.
Selanjutnya, tinggal Anda yang menentukan mana yang lebih tepat untuk project Anda
Pada akhirnya, arsitektur monolitik adalah pilihan yang solid untuk memulai, terutama ketika Anda belum yakin tentang bagaimana aplikasi akan berkembang. Namun, jika Anda mengantisipasi pertumbuhan pesat dan kebutuhan untuk skalabilitas yang masif, microservices menawarkan fondasi yang lebih kuat untuk masa depan. Tetapi, banyak juga perusahaan sukses yang memulai dengan monolitik, lalu secara bertahap memecahnya menjadi microservices saat aplikasi mereka tumbuh.
Source: GeeksForGeeks & AWS Post
