Detail Article Image
Artificial Intelligence

Inspiratif! Berkat AI Ciptaannya, Pemuda Tunanetra Kini Bisa "Merasakan" Suasana Sekitar Lewat Suara

Artikel ini mengulas kisah seorang pemuda tunanetra yang berhasil mengembangkan inovasi kecerdasan buatan (AI) berbasis pengenalan visual dan pemrosesan bahasa alami. Aplikasi AI ciptaannya dirancang khusus untuk mendeskripsikan secara detail dan real-time kondisi lingkungan di sekitar penggunanya melalui narasi suara. Mulai dari latar belakang personal sang inovator, hambatan teknis saat pengembangan, hingga cara kerja sistem AI yang mengubah citra visual menjadi deskripsi auditori yang kaya emosi, kisah ini memperlihatkan bagaimana keterbatasan fisik dapat diubah menjadi pijakan untuk menciptakan solusi yang inklusif dan memberdayakan sesama tunanetra di seluruh dunia.

admin 09 September 2026 2

Dunia bagi sebagian besar orang didefinisikan oleh lanskap visual yang berwarna-warni, garis-garis arsitektur yang megah, hingga ekspresi emosi yang terpancar dari wajah orang-orang di sekitarnya. Namun, bagi penyandang tunanetra, pemandangan visual tersebut kerap kali menjadi tembok tebal yang membatasi akses mereka terhadap ruang dan suasana di sekelilingnya. Kendati alat bantu konvensional seperti tongkat putih atau anjing pemandu sangat efektif untuk aspek keselamatan fisik dasar, alat-alat tersebut belum mampu memberikan gambaran konseptual mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di lingkungan sekitar. Di tengah tantangan besar inilah lahir sebuah kisah luar biasa tentang bagaimana daya juang, empati, dan penguasaan teknologi modern dapat membedah keterbatasan visual menjadi sebuah pengalaman auditori yang begitu hidup.

Kisah berkesan ini datang dari seorang mahasiswa dan wirausahawan berusia 20 tahun asal Kairo, Mesir, bernama Mark Morad. Mark, yang mengalami kehilangan penglihatan, menolak untuk membiarkan kegelapan membatasi potensi diri serta ruang geraknya. Berawal dari rasa frustrasi dan kebutuhan pribadi untuk dapat menjalani aktivitas harian secara lebih mandiri, ia berhasil mengembangkan sebuah sistem aplikasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bernama ScribeMe. Aplikasi ciptaannya dirancang khusus untuk memproses data visual dari kamera dan mengonversinya menjadi deskripsi narasi suara yang mendalam, memungkinkan teman-teman penyandang tunanetra untuk tidak hanya bernavigasi, tetapi juga "merasakan" serta mengimajinasikan suasana di sekitar mereka secara eksplisit dan riil.

Perjalanan Bermula dari Pengalaman Pribadi dan Pembelajaran Otodidak

Inspirasi di balik penciptaan aplikasi ScribeMe murni berakar dari pengalaman personal Mark Morad ketika harus beradaptasi dengan kondisi disabilitas netra yang dialaminya. Setelah kehilangan kemampuan melihat, Mark mendapati bahwa berinteraksi dengan materi pembelajaran di kampus dan memahami situasi di tempat-tempat umum menjadi sebuah tantangan yang sangat menyita energi. Keinginan kuat untuk tetap mandiri dan tidak terus-menerus bergantung pada bantuan orang lain memicu tekadnya untuk mencari jalan keluar berbasis teknologi.

Tanpa latar belakang pendidikan pemrograman formal yang panjang pada awalnya, Mark mengambil langkah berani dengan mempelajari dasar-dasar pengodean (coding) dan ilmu komputer secara otodidak. Memanfaatkan platform tutorial seperti YouTube dan bantuan teknologi screen reader (pembaca layar) yang mengonversi teks di layar monitor menjadi suara, ia secara perlahan memahami struktur bahasa pemrograman, algoritma visi komputer (computer vision), hingga konsep dasar pemelajaran mesin (machine learning). Pada tahun 2023, kegigihannya membuahkan hasil pertama berupa prototipe awal ScribeMe yang saat itu difokuskan untuk membantunya mengakses serta membaca dokumen teks dan buku-buku materi perkuliahan.

Namun, Mark tidak cepat berpuas diri dengan pencapaian awal tersebut. Ia menyadari betul bahwa dunia tidak hanya terdiri dari lembaran kertas atau file PDF berformat teks, melainkan dari ekosistem lingkungan yang terus bergerak dinamis. Didorong oleh visi yang lebih luas, ia mulai mengembangkan algoritma ScribeMe agar tidak hanya sekadar membaca karakter tulisan, melainkan mampu mengidentifikasi objek, ruang, manusia, hingga nuansa interaksi sosial yang ada di hadapan pengguna.

Cara Kerja ScribeMe: Mengubah Kamera Menjadi "Mata" dan AI Menjadi "Pencerita"

Prinsip kerja dari aplikasi ScribeMe pada dasarnya memanfaatkan kamera perangkat pintar sebagai "mata" pengganti yang secara konstan menangkap citra visual di sekitar penggunanya. Gambar atau bingkai video yang ditangkap oleh kamera kemudian diteruskan ke sistem kecerdasan buatan berbasis Large Language Model (LLM) dan algoritma visi komputer yang telah dioptimalkan khusus. AI kemudian bertugas menganalisis seluruh elemen visual dalam foto tersebut, mengaitkan setiap objek satu sama lain, menyusun pemahaman konteks lingkungan, dan akhirnya merangkainya menjadi sebuah kalimat naratif yang utuh.

Perperan penting dari inovasi Mark ini terletak pada kualitas narasi yang dihasilkan. Jika aplikasi pengenal objek standar umumnya hanya memberikan respon yang kaku dan minim konteks, seperti menyebutkan kata "meja", "orang", atau "pintu", ScribeMe dirancang untuk bertindak layaknya seorang sahabat yang sedang menceritakan situasi secara terperinci dan bernuansa. Ketika penggunanya mengarahkan kamera ke dalam sebuah ruangan, ScribeMe tidak sekadar mendeteksi benda, tetapi menceritakan bagaimana pencahayaan di ruangan tersebut, susunan tempat duduk, ekspresi wajah orang di sekitarnya, hingga suasana umum yang tercipta.

Proses analisis kompleks tersebut kemudian diubah menjadi gelombang suara yang jernih menggunakan teknologi Text-to-Speech (TTS) berkecepatan tinggi. Hanya dalam jeda beberapa detik, pengguna dapat mendengarkan deskripsi lingkungan secara langsung melalui earphone atau pengeras suara perangkat, memberikan pengalaman mendalam yang seolah-olah membuka tabir kegelapan yang selama ini membatasi penglihatan mereka.

Integrasi dengan Teknologi Wearable dan Kacamata Pintar

Guna menyempurnakan kenyamanan dan kepraktisan penggunaan di kehidupan nyata, Mark Morad tidak berhenti pada pemanfaatan smartphone genggam saja. Memegang ponsel pintar secara terus-menerus sambil berjalan atau beraktivitas kerap kali dinilai kurang practical dan dapat mengurangi kebebasan gerak tangan bagi penyandang tunanetra yang juga harus memegang tongkat pemandu. Untuk mengatasi hal ini, Mark mengintegrasikan aplikasi ScribeMe dengan perangkat wearable modern, salah satunya adalah kacamata pintar Ray-Ban Meta.

Dengan penggabungan ini, kamera kecil yang terpasang pada bingkai kacamata pintar bertindak sebagai sudut pandang alami pengguna. Apa pun yang dihadap oleh kepala pengguna akan secara otomatis ditangkap oleh kacamata dan diproses langsung oleh ScribeMe. Hasil deskripsi suara kemudian disalurkan langsung melalui pengeras suara internal kacamata yang berada di dekat telinga pengguna. Integrasi ini membawa pengalaman penggunaan ke tingkat yang jauh lebih alami, elegan, dan hands-free, sehingga tunanetra dapat berjalan menyusuri koridor kampus, menyeberang jalan, atau mengunjungi kafe tanpa terlihat canggung membawa perangkat keras yang mencolok.

Menghadirkan Dimensi Baru Kemandirian dan Aksesibilitas

Kehadiran ScribeMe memberikan dampak psikologis dan praktis yang sangat signifikan bagi para penggunanya. Kemandirian merupakan salah satu kebutuhan mendasar bagi setiap individu, dan teknologi kecerdasan buatan ciptaan Mark ini berhasil memberikan kembali porsi kemandirian yang sebelumnya terenggut dari mereka. Di lingkungan akademis misalnya, mahasiswa tunanetra kini dapat dengan mudah memahami materi papan tulis, slide presentasi dosen, hingga posisi tempat duduk di dalam ruang kuliah tanpa harus bergantung pada teman sebangku.

Di ranah kehidupan sosial dan navigasi sehari-hari, ScribeMe bertindak sebagai pelengkap yang memberikan rasa aman. Pengguna dapat mengetahui apakah ada rintangan di depan jalan mereka, mengenali gerak-gerik serta respons emosional lawan bicara melalui deskripsi raut wajah, serta menikmati nuansa keindahan tempat wisata atau ruang publik melalui narasi deskriptif yang disampaikan oleh AI. Rasa percaya diri para penyandang tunanetra pun meningkat secara drastis karena mereka tidak lagi merasa terisolasi dari wacana atau dinamika visual yang sedang terjadi di sekeliling mereka.

Tantangan Pengujian Teknis dan Optimasi Sistem

Menciptakan aplikasi berbasis AI yang andal untuk membantu penyandang disabilitas tentu diwarnai dengan berbagai tantangan teknis yang rumit. Salah satu tantangan utama yang dihadapi Mark adalah masalah latensi atau kecepatan pemrosesan data. Bagi seorang tunanetra yang sedang berjalan di area publik, informasi mengenai kondisi lingkungan harus diterima secara cepat agar mereka dapat merespons rintangan atau perubahan situasi dengan tepat waktu. Latensi yang terlalu lama dapat mengurangi efektivitas aplikasi serta membahayakan keselamatan pengguna.

Oleh karena itu, Mark terus melakukan optimasi pada arsitektur perangkat lunaknya. Ia menyelaraskan penggunaan algoritma pemrosesan lokal (edge processing) untuk kebutuhan identifikasi cepat dan respons langsung, sembari memanfaatkan komputasi awan (cloud computing) untuk menghasilkan narasi deskriptif yang lebih kaya dan kompleks saat koneksi internet memadai. Selain masalah kecepatan, pemulihan dan penyesuaian terhadap berbagai variasi kondisi pencahayaan, seperti ruang remang-remang atau silau sinar matahari malam, juga menjadi fokus penyempurnaan berkala agar kamera dapat selalu menangkap data citra secara optimal dalam kondisi apa pun.

Bukti Nyata Pemanfaatan AI untuk Misi Kemanusiaan dan Inklusivitas

Di tengah perdebatan global mengenai dampak negatif kemajuan kecerdasan buatan, seperti ancaman otomatisasi pekerjaan, isu privasi data, hingga penyebaran disinformasi, inovasi yang dihadirkan oleh Mark Morad melalui ScribeMe memberikan pencerahan tersendiri. Kisah ini menjadi contoh nyata yang sangat berharga tentang bagaimana AI dapat diorientasikan secara positif sebagai alat pemberdayaan manusia dan instrumen inklusivitas sosial.

Teknologi pada hakikatnya adalah alat netral; nilai kebermanfaatannya sangat ditentukan oleh niat dan empati dari para pengembang di belakangnya. Ketika kecerdasan buatan dirancang oleh seseorang yang memahami secara langsung penderitaan dan kebutuhan kelompok disabilitas, produk yang dihasilkan bukan sekadar mengejar profitabilitas atau kecanggihan teknis semata, melainkan sebuah karya yang memiliki "jiwa" dan dampak kemanusiaan yang mendalam. ScribeMe membuktikan bahwa batas-batas fisik dapat dijembatani ketika kemajuan teknologi berpadu dengan kepedulian sosial yang tulus.

Harapan dan Rencana Masa Depan ScribeMe

Sebagai seorang wirausahawan muda yang visioner, Mark Morad tidak berniat berhenti sampai di sini. Ia memiliki rencana jangka panjang untuk terus memperluas jangkauan dan fungsionalitas aplikasi ScribeMe agar dapat dimanfaatkan oleh komunitas tunanetra yang lebih luas di berbagai belahan dunia. Beberapa rencana pengembangannya mencakup penambahan dukungan berbagai bahasa nasional dan daerah, peningkatan integrasi dengan berbagai jenis perangkat keras lunak lainnya, serta pengembangan fitur navigasi mikro dalam ruangan (indoor navigation) untuk membantu pengguna mengenali denah lantai gedung-gedung besar secara presisi.

Mark juga berharap kisah perjalanannya dalam membangun ScribeMe dapat menginspirasi anak-anak muda lainnya, khususnya mereka yang hidup dengan keterbatasan fisik, untuk tidak ragu merambah dunia teknologi dan menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekitar mereka. Dengan tekad yang gigih, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta keberanian untuk mencoba hal-hal baru, keterbatasan yang ada justru dapat diubah menjadi pendorong utama lahirnya karya-karya monumental yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Melalui ScribeMe, Mark Morad telah membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan sama sekali tidak menghalanginya untuk menyinari kehidupan sesama. Kisah pemuda 20 tahun asal Mesir ini menjadi pengingat yang sangat berharga bagi kita semua bahwa teknologi terbaik adalah teknologi yang mampu meruntuhkan hambatan, membuka peluang baru, dan mengembalikan kesetaraan hak bagi setiap manusia untuk menikmati keindahan dunia.

Ingin punya website atau aplikasi yang sesuai kebutuhan bisnis kamu? Neo Karya siap membantu mulai dari website company profile, landing page, toko online, hingga sistem custom. Kamu juga bisa melihat portfolio dan layanan kami melalui website resmi kami di link ini. Konsultasikan kebutuhanmu sekarang bersama kami di sini dan mulai bangun bisnis yang lebih profesional di era digital.

Sumber: Kompas

Berita Terbaru Lihat Semua
Pentingnya Standar Keamanan Siber Internasional pada Website Perusahaan demi Melindungi Data Klien
Teknologi Bisnis

Pentingnya Standar Keamanan Siber Internasional pada Website Perusahaan demi Melindungi Data Klien

Today
Risiko Kebocoran Data pada Website Instan dan Mengapa Jasa Pengembang Profesional Jadi Solusinya
Teknologi Bisnis

Risiko Kebocoran Data pada Website Instan dan Mengapa Jasa Pengembang Profesional Jadi Solusinya

Today
Tak Hanya Anak Krakatau, Enam Gunung Api di Indonesia Kompak Bergejolak
Bencana Alam

Tak Hanya Anak Krakatau, Enam Gunung Api di Indonesia Kompak Bergejolak

Today
Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sempat Lumpuh 2 Hari, Bandara Mulai Beroperasi
Bencana Alam

Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sempat Lumpuh 2 Hari, Bandara Mulai Beroperasi

1 Days Ago
Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sempat Lumpuh 2 Hari, Bandara Mulai Beroperasi
Bencana Alam

Dampak Erupsi Anak Krakatau: Sempat Lumpuh 2 Hari, Bandara Mulai Beroperasi

1 Days Ago

Let's Build Your Digital Solution Together

Time Icon
OPERATIONAL
Senin s/d Jumat pukul 08.00 s/d 16.00
Location Icon
OUR ADDRESS
Grand Slipi Tower 7F, Jl. Letjen S. Parman No.24, RT.1/RW.4, Slipi, Kec. Palmerah, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11480
Call Icon
CALL US
+628131336130