Data Center Makin Menjamur, Warga Inggris Terancam Krisis Air Bersih!
Ambisi Pemerintah Inggris untuk memimpin revolusi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berbenturan dengan ancaman krisis lingkungan yang nyata. Pembangunan fasilitas pusat data (data center) yang masif di Inggris berisiko menguras pasokan air bersih nasional. Industri penyedia air bersih yang diwakili oleh Water UK memberikan peringatan keras bahwa proyeksi kebutuhan air pemerintah sangat keliru karena mengabaikan konsumsi air dalam jumlah masif yang dibutuhkan untuk mendinginkan ribuan server data center. Situasi ini diperparah oleh lokasi pembangunan yang terkonsentrasi di wilayah rawan kekeringan, sehingga memicu ancaman kelangkaan hingga 5 miliar liter air per hari pada masa mendatang. Artikel ini mengulas secara rinci bagaimana pesatnya pertumbuhan komputasi digital menjadi beban berat bagi sumber daya alam dan mendesakperlunya regulasi ketat terkait prioritas penggunaan air di tengah ancaman perubahan iklim.
Laju perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di era modern bergerak sangat cepat, membawa dampak luas bagi berbagai sektor kehidupan manusia. Demi menopang kebutuhan komputasi yang begitu masif, negara-negara maju berlomba-lomba membangun infrastruktur digital berupa pusat data (data center) bernilai miliaran dolar. Inggris menjadi salah satu negara yang berambisi besar mendedikasikan kawasannya sebagai pusat pertumbuhan AI dunia. Namun, di balik ambisi besar menuju modernisasi digital tersebut, ada harga mahal dari lingkungan yang harus dibayar mahal oleh warga. Rencana percepatan pembangunan data center yang saat ini tengah digencarkan oleh Pemerintah Inggris justru memicu kekhawatiran mendalam karena dinilai berisiko mengarahkan negara tersebut menuju krisis air bersih yang serius.
Peringatan keras ini secara resmi disampaikan oleh Water UK, sebuah organisasi independen yang mewakili berbagai perusahaan penyedia layanan air di wilayah Inggris dan Irlandia Utara. Dalam dokumen evaluasi resmi yang diserahkan kepada para anggota parlemen, Water UK mengungkapkan kekhawatiran bahwa pasokan air nasional tidak akan cukup untuk memenuhi lonjakan permintaan data center di masa mendatang jika tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan dari pemerintah. Water UK menilai bahwa proyeksi kebutuhan air yang dibuat oleh pemerintah saat ini "sangat keliru". Kesalahan mendasar dalam perencanaan tersebut terletak pada diabaikannya estimasi lonjakan konsumsi air yang dibutuhkan oleh fasilitas data center, seolah-olah sumber daya air yang ada tidak terbatas.
Secara teknis, data center membutuhkan air dalam jumlah yang sangat masif untuk menjaga agar ribuan komputer dan server berdaya tinggi di dalamnya tidak mengalami peningatan suhu ekstrem (overheating) saat mengolah data secara konstan. Air bersih tersebut dialirkan secara langsung ke dalam sistem pendingin, mesin chiller, dan peralatan pengatur kelembapan udara. Selain penggunaan secara langsung, konsumsi air juga melonjak secara tidak langsung akibat tingginya pasokan energi listrik yang dibutuhkan untuk menyokong operasi fasilitas tersebut. Kebutuhan ganda ini menciptakan tekanan yang luar biasa pada infrastruktur pengelolaan air nasional.
Masalah ini kian memprihatinkan setelah Water UK mengkritik Kerangka Nasional Sumber Daya Air yang diterbitkan oleh Badan Lingkungan Inggris (Environment Agency). Dalam dokumen pedoman tersebut, pihak berwenang dinilai sama sekali belum mengantisipasi maupun memperhitungkan dampak ekonomi digital terhadap ketersediaan air minum. "Tampaknya ada asumsi bahwa negara akan selalu memiliki cukup air untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Kenyataannya justru jauh dari itu," tulis laporan resmi Water UK, menyindir optimisme tanpa dasar dari pengambil kebijakan yang kurang memperhitungkan batasan geografis dan iklim.
Krisis ini makin membayang ketika melihat fakta mengenai titik lokasi sebaran fasilitas teknologi tersebut di Inggris. Diketahui bahwa lebih dari tiga perempat data center utama di negara itu terkonsentrasi di wilayah selatan dan timur Inggris. Wilayah-wilayah tersebut secara geografis merupakan kawasan yang sudah lama berada di bawah ancaman tekanan pasokan air yang parah. Saat musim panas tiba, sejumlah daerah di kawasan selatan kerap diterpa gelombang panas berkepanjangan serta curah hujan yang minim. Bahkan, tidak jarang pemerintah setempat harus memberlakukan pembatasan dan larangan penggunaan selang air bagi warga demi menghemat stok air domestik.
Di tengah keterbatasan pasokan tersebut, pembangunan data center baru tetap dipaksakan berjalan di area yang sama. Water UK dengan tegas memperingatkan bahwa tanpa adanya perombakan kebijakan menyeluruh, penambahan jaringan data center di wilayah rawan kekeringan menjadi hal yang mustahil dilakukan. Jaringan pipa dan sistem penyediaan air yang ada saat ini sudah berada pada titik batas maksimalnya hanya untuk menopang kebutuhan domestik masyarakat. Membebankan industri raksasa baru di atasnya hanya akan mempercepat kerusakan ekosistem air.
Ancaman ini tidak boleh dipandang sebelah mata sebab proyeksi jangka panjang menunjukkan potret yang cukup mengerikan. Laporan dari badan parlemen House of Lords memperkirakan bahwa pada tahun 2055 mendatang, Inggris berpotensi mengalami defisit atau kekurangan pasokan air publik hingga 5 miliar liter setiap harinya. Angka kekurangan pasokan sebesar ini mengancam keberlangsungan hidup masyarakat umum serta industri pangan jika tidak ditangani dengan aksi mitigasi yang terencana sejak dini.
Gambaran nyata dari besarnya serapan air oleh fasilitas teknologi ini diungkapkan oleh Affinity Water, perusahaan penyedia air yang beroperasi di wilayah Slough—sebuah kawasan dengan konsentrasi data center terpadat di Inggris. Perusahaan tersebut membeberkan bahwa ada sekitar 125 proyek data center baru yang saat ini sedang dalam tahap pengajuan izin maupun proses konstruksi di area layanannya. Fakta yang mencengangkan adalah bahwa beberapa pengembang data center mengajukan permohonan pasokan air bersih hingga mencapai 3 juta liter per hari untuk satu fasilitas saja. Jumlah air harian tersebut setara dengan konsumsi puncak untuk kurang lebih 3.500 unit rumah tangga.
Secara akumulatif, Water UK mengestimasi bahwa data center yang saat ini telah beroperasi di Inggris menyedot sekitar 6,6 juta liter air minum setiap harinya. Angka ini dipastikan akan melonjak drastis seiring target ambisius pemerintah yang ingin meningkatkan kapasitas data center hingga tiga kali lipat pada tahun 2030. Jika target peningkatan tiga kali lipat tersebut terealisasi tanpa perubahan teknologi pendinginan, konsumsi air minum untuk data center diproyeksikan melonjak tajam hingga mencapai 19,8 juta liter per hari. Peningkatan konsumsi yang melampaui batas kewajaran ini dapat mengorbankan hak-hak dasar warga atas akses air bersih.
Melihat skenario terburuk yang bisa terjadi di masa mendatang, Water UK mendesak Pemerintah Inggris untuk segera menyusun regulasi prioritas penggunaan air. Aturan ini penting untuk memandu keputusan pembagian air ketika bencana kekeringan melanda, sehingga tidak memicu konflik kepentingan antarsektor. Tanpa adanya pedoman hukum yang jelas dan tegas, alokasi air dikhawatirkan akan memihak pada kepentingan industri ber modal besar dan mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat pemukiman.
Menanggapi berbagai gelombang kritik dan peringatan tersebut, Pemerintah Inggris menyatakan komitmennya bahwa pengembangan teknologi AI harus sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan. Juru bicara pemerintah menegaskan bahwa perlindungan terhadap pasokan air warga akan tetap menjadi fokus utama sambil terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi. Pemerintah berjanji akan mengkaji berbagai solusi alternatif, seperti penggunaan teknologi pendinginan tanpa air (dry cooling) atau pemanfaatan air daur ulang guna mengikis dampak buruk data center terhadap lingkungan.
Selain janji pencarian alternatif teknologi pendingin, pemerintah Inggris juga mengklaim telah mengambil langkah nyata melalui investasi infrastruktur berskala besar. Pemerintah mengalokasikan dana rekor tertinggi untuk membangun sembilan bendungan baru di wilayah-wilayah strategis guna menampung cadangan air hujan dan menjamin ketersediaan air minum jangka panjang. Langkah ini diharapkan mampu meredam kekhawatiran publik atas potensi lonjakan permintaan air dari sektor teknologi.
Kendati demikian, pembangunan infrastruktur seperti bendungan membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga dapat berfungsi secara optimal. Sementara itu, ekspansi data center terus berlangsung dengan laju yang sangat cepat tanpa menunggu kesiapan daya dukung lingkungan. Tantangan ini membuktikan bahwa realitas revolusi digital tidak sekadar masalah kecanggihan algoritma dan kecepatan pemrosesan data semata. Perkembangan teknologi tingkat tinggi selalu membutuhkan integrasi yang bijaksana dengan pengelolaan sumber daya alam.
Dilema yang dihadapi oleh Inggris saat ini menjadi pelajaran penting bagi negara-negara lain yang sedang gencar membangun infrastruktur AI. Keinginan untuk menjadi pemimpin di bidang teknologi masa depan tidak boleh mengorbankan kebutuhan dasar manusia akan air bersih. Tanpa adanya koordinasi lintas sektor antara kementerian teknologi, perusahaan AI, dan otoritas pengelolaan air, pesatnya pembangunan data center berpotensi mengubah pilar kemajuan teknologi menjadi bencana krisis ekologi bagi warga sekitar. Keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan alam harus menjadi syarat mutlak dalam setiap kebijakan pembangunan.
Ingin punya website atau aplikasi yang sesuai kebutuhan bisnis kamu? Neo Karya siap membantu mulai dari website company profile, landing page, toko online, hingga sistem custom. Kamu juga bisa melihat portfolio dan layanan kami melalui website resmi kami di link ini. Konsultasikan kebutuhanmu sekarang bersama kami di sini dan mulai bangun bisnis yang lebih profesional di era digital.
Sumber: CNN
